Showing posts with label pilpres. Show all posts
Showing posts with label pilpres. Show all posts

10 July 2009

Pelajaran dari Kemenangan Yudhoyono

by Opini Tempointeraktif*
---
Sejumlah pelajaran bisa ditarik dari kemenangan pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono. Keunggulan duet itu menunjukkan kian matangnya pemilih dalam menentukan sikap politik. Fenomena itu juga menegaskan bahwa bangsa kita sudah berada di jalur yang tepat untuk terus menempuh jalan demokrasi sebagai alat dan cara mengatasi perbedaan.

Kemenangan Yudhoyono-Boediono memang belum resmi. Angka kemenangan baru terlihat dari hasil hitung cepat (quick count) Komisi Pemilihan Umum dan berbagai lembaga riset. Namun, seperti pada pemilu legislatif yang lalu, perolehan hitung cepat biasanya tak berbeda jauh dengan hasil resmi.

Maka, dari hasil hitung cepat itu kita bisa membaca berbagai hal di balik kemenangan duet usungan koalisi pimpinan Partai Demokrat tersebut. Pada awal berlangsungnya kontes presiden, pasangan Yudhoyono-Boediono menuai kritik karena tak mengikuti mitos bahwa pasangan calon harus merepresentasikan Jawa dan luar Jawa. Muncul opini, pasangan yang sama-sama Jawa ini akan menimbulkan resistansi dari pemilih di luar Jawa.

Mitos itu terbukti runtuh. Pasangan Yudhoyono-Boediono mampu mengeduk suara terbanyak di beberapa kantong suara penting luar Jawa. Kemenangan besar diraih di Sumatera (termasuk Nanggroe Aceh Darussalam), Kalimantan Barat dan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Maluku, dan Papua. Bahkan, di Bali, Yudhoyono mampu mendapatkan suara mendekati pasangan Megawati-Prabowo.

Hasil itu menunjukkan bahwa pemilih kian rasional dan pragmatis dalam menentukan sikap politik. Pemilih tak mempersoalkan apakah Yudhoyono-Boediono kombinasi Jawa dengan non-Jawa atau bukan. Bagi pemilih, tak peduli dari mana mereka, yang penting pasangan itu dipercaya mampu memenuhi harapan.

Berkaitan dengan isu runtuhnya primordialisme ini, apresiasi patut disematkan kepada Jusuf Kalla. Keteguhannya untuk maju sebagai calon presiden mampu memberi inspirasi bahwa yang bukan Jawa pun harus berani berlaga sebagai calon presiden. Kalah-menang soal lain. Yang penting, keberanian untuk bersaing meruntuhkan mitos primordialisme.

Duet Yudhoyono-Boediono juga unggul di wilayah-wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis pesaing, seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pada pemilihan legislatif yang lalu, Partai Golkar menguasai Jawa Barat dan PDIP mendominasi Jawa Tengah. Tapi kali ini duet “Lanjutkan” menang di sana.

Lagi-lagi, sikap rasional-pragmatislah yang membuat Yudhoyono-Boediono memimpin perolehan suara. Pemilih di wilayah itu tak menghendaki tawaran perubahan kandidat lainnya. Mereka ragu untuk mempertaruhkan apa yang telah dinikmati selama ini. Pemilih enggan mengambil risiko. Apalagi rekam jejak dua pasangan lainnya juga dianggap menyimpan “cacat politik”.

Pada akhirnya hal ini menunjukkan bahwa kedewasaan politik masyarakat semakin tinggi. Masyarakat tak lagi bisa dirayu dengan pendekatan-pendekatan non-rasional. Khalayak akan mempertimbangkan hal-hal yang masuk akal sebelum bersikap. Maka, sungguh aneh jika kedewasaan politik khalayak ini tidak diimbangi dengan kedewasaan politik para elitenya. Demokrasi tak bisa lagi menerima sikap kekanak-kanakan.


sumber: tempointeraktif.com

09 July 2009

Tifatul: Yang Menang Jangan Sombong, Yang Kalah Jangan Dihina

Jakarta - Presiden Partai Keadilan Sejaktera (PKS) Tifatul Sembiring mengimbau semua pihak agar mensyukuri proses Pilpres yang berjalan aman dan lancar. Dia pun meminta agar calon yang menang tidak takabbur, sementara calon yang kalah harus dihormati.

"Jangan merendahkan. Yang menang tak boleh sombong, yang kalah tidak boleh dihinakan," kata Tifatul dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Rabu (8/7/2009).

Secara pribadi, Tifatul mengucapkan selamat kepada Mega-Prabowo dan JK-Wiranto yang telah mengikuti seluruh proses Pilpres ini tahap demi tahap dengan penuh kesabaran dan keseriusan.

Pilpres ini, lanjutnya juga merupakan kemenangan semua pihak, kemenangan rakyat Indonesia. Jadi semua pihak diimbau untuk bersatu mendukung yang menang dalam masa pemerintahan 2009-2014 nanti. Tugas ini, lanjutnya sangat berat dan tidak mungkin ditangani satu orang atau satu kelompok saja.

"Marilah kita kembali kepada pekerjaan pokok membangun bangsa dan negara ini agar meraih kemajuan dan kesejahteraan rakyat," imbuhnya.

Tifatul juga berharap kepada para capres baik yang menang atau pun yang kalah untuk tetap menjaga silaturahmi.

"Saya mengimbau alangkah indahnya kalau ketiga pasang calon ini kembali berkumpul, bersalaman dan saling memaafkan, simbol bahwa negeri ini memang rukun dan dewasa dalam berdemokrasi," pungkasnya. ( anw / iy )

Sumber: DetikCom

PKS Minta Semua Pihak Legowo Dukung SBY-Boediono

Jakarta - PKS meminta semua pihak untuk menerima hasil pemilu dengan legowo. Pihak yang kalah diharapkan mau mendukung pihak yang unggul di pilpres kali ini, yakni SBY-Boediono.

"Jadi semua pihak diimbau untuk bersatu mendukung yang menang dalam masa pemerintahan 2009-2014. Tugas ini sangat berat tidak mungkin ditangani satu orang atau satu kelompok saja," kata Presiden PKS Tifatul Sembiring dalam pesan singkat yang diterima, Rabu (8/7/2009).

Tifatul menambahkan, yang utama yakni kemajuan bagi bangsa dan negara guna menuju kesejahteraan rakyat. "Ukhuwah dan persatuan ummat segera diperbaiki, apa yang tejadi kemarin hendaknya menjadi pelajaran," terangnya.

Akan lebih baik bila ketiga pasangan calon berkumpul dan saling bersalaman memaafkan, sebagai simbol dari kedewasaan demokrasi.

"Yang menang jangan sombong dan jangan merendahkan, yang kalah harus dihormati dan jangan dihinakan," terangnya.

Sementara itu menurut Kepala Divisi Humas PKS Mabruri, kemenangan SBY-Boediono ini diakuinya memang karena faktor figur SBY, tetapi PKS juga menyumbang suara yang cukup besar.

"Hasil quick count menunjukkan suara SBY melebihi suara Partai Demokrat dan perolehan suara koalisi. PKS dalam hal ini sudah bekerja optimal, buktinya dari hasil exit poll 7o persen pemilih PKS memilih SBY-Boediono," tutupnya.