Showing posts with label taujih. Show all posts
Showing posts with label taujih. Show all posts

04 June 2009

Bang Amir, Selamat Tinggal Keraguan

Termenung bang Amir memikirkan langkah apa yang harus diambilnya. Perasaan tidak
tenang terpancar dari raut wajah bang Amir yang semakin tua. Di luar sana
terdengar hiruk pikuk antara dua keinginan dalam pemilihan pemimpin bangsa ini.
Dengan dasar-dasar yang kuat, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Tergantung dari mana mereka melihatnya. Dan tergantung perasaan dan pengalaman
mana yang lebih dominan di dalam dirinya.

Dengan argumentasi apa pun, dua kekuatan ini dipilih oleh orang-orang yang juga
mempunyai alasan yang mereka anggap lebih benar dan sohih. Terus apa sebenarnya
yang harus dilakukan oleh para pemilih ini untuk melakukan pilihan yang lebih
benar dan lebih sohih ? Bang Amir pun geleng-geleng kepala tidak menemukan
jawabannya.

Dalam lipatan fikiran-fikiran yang menghimpit kepala bang Amir, tiba-tiba muncul
bayangan percakapan Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan para sahabat setelah perang
Badar dalam menentukan nasib para tawanan. Haruskan mereka dibunuh semuanya ?
atau diampuni dengan membayar denda ?
Mereka pun mempunyai keyakinan masing-masing. Dalam perang Badar, argumen Umar
benar, tapi hasil syuro menentukan lain. Dan Umar pun selamat dari
langkah-langkah insilah yang akan melawan Rasulullah. Di sisi lain, Rasulullah
dan Abu Bakar pun tunduk kepada ketentuan Allah yang Maha Tinggi, dengan koreksi
Bang Amir membayangkan, seandainya dirinya hidup pada zaman itu. Argumen Umar
mungkin adalah yang akan dia dukung, sebagai balasan atas kesewenang-wenangan
orang-orang Qurais pada saat itu. Yang menjadi masalah adalah, apakah dirinya
akan mengikuti langkah Umar untuk mengikuti hasil syuro yang telah ditetapkan
oleh Nabi ? Ataukah akan melawan langkah-langkah Umar yang tunduk kepada
Rasulullah dan Abu Bakar. Oooo...wahai jiwa yang tenang, alangkah dahsyatnya
goncangan jiwa kaum muslimin pada saat itu, fikir bang Amir. Ketika ummat muslim
pada saat itu hilang persatuan langkah, senyum simpul kemenangan akan menghiasi
wajah Abdullah bin Ubay bin Salul.

Ataukah dirinya akan tunduk taat tidak berdaya sebagai gambaran wujud orang yang
tidak mempunyai pendapat di sekeliling orang-orang saat itu ?
Sedihnya hati ini, apabila sosok tubuh yang dianugerahi oleh Allah ini tidak
dapat menentukan sikap, hanya tunduk lesu menunggu perintah. Buat apa Allah
memberikan semua ini pada diriku, gumam bang Amir.
Duh ! Seandainya langkah Rasulullah pada saat itu ditentang oleh sebagian besar
sahabatnya, karena keputusannya yang tidak tepat, sudah pasti perjuangan Islam
pada saat itu akan semakin sulit. Luar biasa !!! Tidak salah, kalau Allah
mengampuni dosa-dosa para ahli badar masa lampau dan masa yang akan datang,
Allah ridho kepada mereka yang tetap tunduk kepada keputusan tertinggi pada saat
itu, walau pun sebelumnya hatinya masgul tak menentu.

Ketaatan dalam sebuah masalah, yang paling berat bukan pada saat kita paham dan
berilmu tentang masalah itu, justru ketaatan yang paling berat adalah ketika
kita tidak paham dan tidak berilmu tentang masalah itu. Manusia-manusia pilihan
ini saling erat memegang tali-tali yang kuat, untuk menguatkan barisan Islam
yang baru tumbuh di Madinah saat itu.
Terbayang kerinduan bang Amir dengan wajah-wajah mulia yang dijamin surga-Nya,
Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Hamzah,...Sungguh ! mereka adalah manusia-manusia
pilihan....!! Yang menempatkan ketaatan sebagai bagian amal ibadah dalam
kehidupannya.

Terbujur lesu bang Amir di atas tempat duduknya ...
Barisan macam apa yang akan kita dapatkan, kalau seandainya aku tidak tunduk
kepada sang komandan ? Kalau barisan ini keliru dalam mengambil keputusan,
bukankah masih ada Allah Yang Maha Perkasa dan Bijaksana yang akan meluruskan
setiap langkah-langkah dari para pemanjat doa di setiap pagi dan petang ini ?
Bukankah kekuatan doa pagi dan petang akan mengawal jalannya keputusan ini ?
Sejak kapan kita tidak percaya dengan doa-doa ini ? Mungkinkah Allah akan
membiarkan orang-orang yang mengucapkan bahwa Rabb kami adalah Allah, dan kami
beristiqomah di dalamnya dalam ketidak berdayaan ?

Wajah bang Amir tiba-tiba berdiri tegak, tersenyum dan membisikkan kata
perpisahan kepada keraguan.
Wahai wajah-wajah yang selalu berdoa di setiap pagi dan petang, bukankah kalian
mempunyai kemuliaan dengan dakwah ini ? bukankah Allah menguatkan barisan ini
dengan kekuatan doa-doamu itu ? Kalau mereka keliru, tidak percayakan akan
kekuatan pertolongan Allah dengan munajat harianmu ? Bukankah ukhuwah yang sudah
kita pupuk subur dengan doa-doa munajat ini sudah sedekian lama tumbuh dalam
pribadi-pribadi ketaqwaaan ? Akankah kita buang kemulian-kemulian ini, sedangkan
perbedaan kita adalah karena kelemahan diri kita masing-masing ? Sejak kapan
anggota barisan dakwah ini hanya berpegang kepada pendapat pribadi-pribadi ?
Bukankah di sana, Majlis Syuro yang mulia, ada orang-orang yang ikhlas berjuang
mengawal tapak langkah dakwah ini, yang telah mengambil keputusan buat kita
semuanya ? Masihkan keraguan menyelimuti di setiap relung hati kita ?

Dalam akhir munajatnya di malam yang sepi hari itu, bang Amir memanjatkan doa,
agar hati-hati ummat ini menjadi terikat dengan kuat dalam satu langkah barisan
yang diridhoi-Nya. Dalam langkah waktu yang sunyi, sepi dan malam, bang Amir
menetaskan air mata di tengah-tengah harapannya. Terbayang dengan
saudara-saudaranya yang berlari-lari kecil berjuang dalam peristiwa Sa'i, dari
Marwah ke Sofa.
Mereka selalu ikhlas untuk memanjatkan doa persatuan ummat ini untuk
saudara-saudaranya di tanah air, "Robbanagh-fir-lana wali-ikhwaninal-lazina
sabaquna bil-iman, wala taj'al fii qulubina ghil-lal lil-lazina aa-manu, Robbana
innaka ro-ufur- rohiim." Amin.

Martinez, USA
Jumadil Akhir 8, 1430H

Yusuf

22 May 2009

IKHLAS BERJUANG

“Sesungguhnya hari ini adalah satu hari di antara hari-hari Allah, tidak pantas diisi dengan kebanggaan dan kesombongan atau keangkuhan. Ikhlaskanlah amal dan jihadmu dan tujulah Allah dengan amalmu, karena hari ini menentukan hari-hari yang akan datang.” (Orasi Khalid bin Walid di tengah berkecamuknya perang Yarmuk)

Kata ikhlas sudah begitu sering kita dengar dalam berbagai kesempatan. Bagi setiap pejuang dan prajurit dakwah, semestinya ikhlas tidak boleh lagi menjadi sekadar retorika, melainkan ia harus hadir dan ada dalam diri kita, menyatu dalam pikiran, hati, dan menjadi jiwa dari setiap nafas dan gerak amal dan perjuangan kita. Bersamanya kita memulai hari-hari, dengannya kita membangun ukhuwah dan menapaki jalan dakwah ini.

Bukan tanpa maksud Imam Hasan Al-Banna meletakkan ikhlas dalam rukun baiatnya. Jika ada satu saja gerak kita yang tidak ikhlas, berarti kita secara syar’i telah mengkhianati Allah dan telah mengkhianati komitmen kita sendiri dan pada sebuah organisasi. Na’udzu billah min dzalik.

Karena itu, saudaraku yang kucintai karena Allah, sudah sepatutnya kita menyadari dengan sepenuh hati, bahwa sejak pertama kali bergabung dengan suatu organisasi atau suatu jamaah, ikhlas telah menjadi tuntutan dan kewajiban yang mengikat diri kita sampai Allah swt. menentukan putusan-Nya; menampakkan kemenangan bagi dakwah ini atau kita syahid dalam menegakkan dan membelanya.

Di sini saya tidak akan menguraikan makna ikhlas dengan kata-kata, kita semua bahkan telah menghafalnya di luar kepala. Saya ingin mengajak kita semua untuk merenungi bersama kata-kata ini:

Apakah kita telah menjadikan ikhlas sebagai sesuatu yang menyatu dalam diri kita, melebur, menjasad, mendarah daging, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita?

Apakah ikhlas telah merasuk dalam pemikiran kita sehingga membuat kita menjadi produktif sekaligus kreatif dalam mengeluarkan gagasan untuk membangun dakwah Islam tanpa tendensi apapun selain kepada Allah?

Apakah ikhlas telah melebur dalam hati kita sehingga menjadikan kita mampu memandang segala permasalahan dalam dakwah ini dengan jernih, dan menjadikan kita mampu membangun ukhuwah, ukhuwah yang sebenarnya bukan sekadar hiasan kata?

Apakah ikhlas telah menjadi jiwa dari setiap amal yang kita lakukan, sehingga menjadikan kita rela melaksanakan apapun perintah dan kebijakan organisasi atau jamaah dengan penuh tanggung jawab, tanpa rasa berat dan tidak berharap balasan atas semua itu kecuali hanyalah dari Allah Taala?

Wahai saudaraku, para aktivis dakwah yang saya cintai karena Allah, apakah ikhlas baru sekadar kata tanpa makna, atau ia cuma retorika yang kita suapkan kepada para objek dakwah kita?

Takutlah kepada Allah, karena Dia Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya kemenangan dakwah ini sejak dulunya selalu terkait dengan keikhlasan para prajuritnya. Apa yang kita inginkan ketika berdakwah dan berjuang menyebarkan nilai-nilai Islam?

Motivasi awal dan keinginan kita adalah meraih ridha Allah. Semua kerja dan aktivitas dakwah yang kita lakukan sebagai sarana atau alat untuk meraih keridhaan Allah, lain tidak. Bagi kita, ridha Allah adalah imbalan terbesar dan termahal, karena itu kita sudah merasa cukup dengan imbalan itu.

Yakinlah bahwa Allah akan terus menyertai perjuangan kita selama perjuangan kita murni, bersih dari noda yang mengotorinya, selama motivasi dan keinginan kita dalam perjuangan ini tidak bergeser atau berubah. Karena itu, sekali lagi, Ikhlaslah dan teruslah pelihara keikhlasan itu sampai Allah Taala memberikan kemenangan atau kita mendapatkan keridhaan-Nya di sisi-Nya sebagai syuhada!

01 May 2009

Kuatkan Intima’ Pada Dakwah

Oleh: Tim dakwatuna.com

berbarisdakwatuna.com - Jika kita memperhatikan perjalanan hidup kita, kita akan menemukan bahwa Allah telah memberikan kita nikmat dan karunia yang tidak terhingga kepada kita. Dimulai ketika kita terlahir dalam keluarga muslim dan hingga sekarang, Allah swt. masih memberikan kita nikmat iman dan Islam. Berapa banyak manusia yang terlahir dalam lingkungan keluarga non-muslim hingga dewasa, bahkan sampai ajal menjemput.
Mereka tetap tidak mendapatkan atau menjaga fitrah penciptaannya, yaitu Islam seperti disebutkan dalam hadits “kullu mauluudin yuuladu ‘alal fithrah” (tiap bayi dilahirkan atas fitrah Islam).

Saudaraku…

Bukankah ini karunia besar yang patut kita syukuri? Allah mencela dan mengancam orang yang tidak mensyukuri nikmat dengan siksa yang pedih nanti di akhirat,

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” Ibrahim:7

Kelimpahan nikmat dan kebaikan yang Allah swt. berikan kepada manusia disebutkan dalam beberapa ayat, di antaranya:

“Maha suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Al-Mulk:1

Al-Quran mengungkapkan keberlimpahan kebaikan Allah swt. dengan ungkapan “tabaarak” yang arti sebenarnya adalah Maha Pemberi kebaikan yang berlimpah dan tak terhingga. Pengertian ini dapat kita lihat di ayat lain yang menyebutkan,

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, kalian tidak akan dapat menghitungnya.” Ibrahim:34

Hal di atas cukup untuk menjadi alasan pribadi bagi seorang muslim untuk bersyukur dan membela Islam. Dalam tinjauan yang lebih luas lagi, Islam bukan hanya agama pribadi, tetapi juga sebuah arus dan ideologi yang harus diperjuangkan agar nilai-nilainya berjalan di muka bumi. Untuk tujuan ini, maka intima’ atau berafiliasi kepada Islam dan perjuangan dakwah Islam menjadi suatu keharusan dan wujud dari rasa syukur manusia kepada Allah swt.

Islam adalah ideologi dan risalah Allah swt. yang harus sampai kepada seluruh manusia atau menjadi rahmat bagi semesta. Tugas besar ini memerlukan orang-orang yang memiliki komitmen dan loyalitas serta keterikatan yang kuat kepada Islam. Pembelaan dan keberpihakan kita kepada Islam merupakan wujud intima kita kepada Islam dan gerakan dakwah. Ekspresi kesyukuran kita atas semua nikmat ini harus benar-benar terwujud.

Saudaraku…

Intima’ kepada Islam bukan berarti mengungkung manusia, mengikat manusia dan merasa tidak merdeka. Sisi lain dari pemahaman intima’ yang dapat diwujudkan adalah seperti yang dikatakan Imam Syafi’i dalam suatu sya’irnya,

الحُرُّ مَنْ رَاعَى وِدَادَ لحَظَةٍ أَو انْتَمَى لمِنَ أَفَادَهُ لَفْظَة

“Orang yang merdeka adalah orang menjaga (merawat) kasih sayang (ukhuwah) yang hanya sebentar atau orang yang berafiliasi kepada orang yang telah memberikan manfaat meski hanya satu kata.”

Dakwah dan tarbiyah telah memberikan sesuatu yang banyak kepada kita. Kita bukan hanya menerima ukhuwah sesaat dari saudara kita lainnya, bahkan bertahun-tahun kita telah hidup menjalin ukhuwah. Ilmu dan nilai yang bermanfaat buat kehidupan telah banyak kita dapatkan dari murabbi -pembina- kita, dari qiyadah -pemimpin- kita dan saudara sejawat kita. Jadi kita telah banyak berhutang kepada dakwah dan pelaku dakwah itu sendiri, apalagi kepada Allah swt., sumber segala kebaikan.

Dengan banyaknya kebaikan yang kita dapatkan dari dakwah dan tarbiyah, maka kita belum dapat dikatakan merdeka jika kita tidak dapat berterima kasih kepada para dai, murabbi, qiyadah, mas’ul -penanggungjawab- kita yang telah menunaikan hak ukhuwah kepada kita. Bukan hanya “lahzhah,” beberapa menit, tetapi bertahun-tahun kita merasakan kebaikan ukhuwah tersebut.

Manfaat yang kita dapatkan dari perkataan murabbi kita bukan hanya “lafzhah” sepatah dua patah, tetapi ribuan kata dalam bentuk arahan, taujih, materi dan berbagai pelajaran telah kita dapatkan, bahkan sebagian kita ada yang membukukan materi yang mereka dapatkan.

Sudah sepantasnya dan tanpa ragu-ragu, kita harus memberikan kontribusi kita kepada dakwah dan gerakan dakwah ini sebagai wujud dan bukti intima’ kita kepada Islam.

Misi dakwah telah dibebankan kepada para dai. Mereka adalah manusia. Kepada merekalah kita menunjukkan intima’ Islam kita. Kepada murabbi, kepada mas’ul, kepada qiyadah dan kepada mereka yang urusan kita menjadi tanggungannya kita bekerja sama dan beramal jamai.

Ketaatan kita kepada qiyadah dan mas’ul merupakan cerminan intima’ kita kepada gerakan dakwah, karena Allah swt. memerintahkan kita untuk taat kepada pemimpin.

Saudaraku…

Jika nikmat keislaman kita syukuri dengan berwala’ -loyalitas- kepada Allah swt., Rasul-Nya, dan pemimpin Islam, maka nikmat berukhuwah dapat kita syukuri dengan senantiasa berafiliasi kepada gerakan dakwah dalam kerja dan ketaatan kepada kebijakan dakwah, insya Allah. Wallahu a’lam



17 April 2009

Belajar dari angsa

Ikhwah fillah, perjalanan dakwah dan kehidupan yang penuh dinamika tak selamanya hanya mengambil pelajaran dari para pendahulu kita. Ada baiknya kita merenung sejenak dengan sejumlah tamsil dan pelajaran dari mahluk Alloh lainnya sebagaimana yang diabadikan di dalam firman Alloh. Salah satunya mari kita renungkan ayat sebagai berikut :

“Tidaklah engkau (Muhammad) tahu bahwa kepada Alloh lah bertasbih apa yang ada di langit dan di bumi, serta (juga) burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan” (Q.S. An Nuur 41).

Sudah menjadi fenomena umum bila musim gugur telah tiba (tentunya di negara yang memiliki empat musim) pada waktu-waktu tertentu terlihat rombongan burung angsa terbang ke arah selatan. Migrasi dalam jumlah besar ini merupakan suatu keniscayaan karena sebentar lagi musim dingin akan datang. Bila tidak melakukan perpindahan maka kematian akan segera menghampirinya. Coba perhatikan dengan seksama, ternyata angsa-angsa itu terbang dengan formasi huruf berbentuk “V”. Ada apa gerangan ? Adakah pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan angsa itu ?

PELAJARAN PERTAMA

Pada setiap burung yang mengepakkan sayapnya akan memberikan daya dukung bagi burung yang terbang tepat berada di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusah payah untuk menembus ”dinding udara” di depannya. Terbang dalam formasi ”V” ternyata membuat seluruh kawanan angsa dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada setiap burung terbang sendirian.

Pelajaran yang dapat kita petik adalah ketika kita bergerak dalam arah/ tujuan yang sama dan saling berbagi tugas maka Insya Alloh tujuan yang kita inginkan akan dapat diraih lebih cepat dan lebih mudah. Dalam kehidupan berjamaah akan terasa indah jika para murobbi dan mutarobbi saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain. Maju mundurnya kehidupan berjamaah sangat tergantung pada hubungan diantara kedua. Murobbi senantiasa inovasi memberikan yang terbaik bagi para mutarobbinya. Adapun para mutarobbi harus bekerja keras dan ikhlas agar keberadaannya menjadi batu penting dalam bangunan jamaah ini.

PELAJARAN KEDUA

Apabila seekor angsa terbang keluar dari formasi rombongan maka dapatlah dipastikan dia akan menghadapi tantangan yang luar biasa beratnya. Arus angin yang sangat kencang mampu merontokkan seluruh kekuatannya. Artinya, angsa yang terbang sendirian akan mengalami kesulitan terbang di angkasa luas. Akhirnya, si angsa akan kembali ke dalam formasi ”V” karena energi untuk terbang yang dia keluarkan jauh lebih kecil dan ia pun merasa terlindungi oleh keberadaan rekan-rekan yang terbang di depannya.

Pelajaran yang dapat ambil adalah hidup menjadi bermakna tatkala keberadaan kita senantiasa dalam keberjamaahan. Hidup sendirian tanpa ada yang menasehati hanya akan menjadikan kita laksana orang suci. Padahal sesungguhnya orang tersebut telah jauh terperangkap dalam jebakan dosa. Ingat, melakukan suatu kebaikan seorang diri pasti jauh lebih berat daripada kita melakukannya bersama-sama. Budaya ”saling memberi” harusnya tetap menjadi soko guru bangunan keluarga dan jamaah yang kita cintai ini. Sifat ini harus senantiasa dipelihara setiap saat sehingga tidak satupun diantara kita yang tidak memberikan kontribusi dalam amal Islami.

PELAJARAN KETIGA

Adakalanya sang pemimpin mengalami kelelahan dalam melaksanakan amanahnya. Ketika sang pemimpin rombongan angsa yang terbang paling depan merasa kelelahan, maka dia akan terbang memutar ke belakang formasi ’V” dan dapat dipastikan ada seekor angsa lain yang terbang menggantikan posisinya sebagai seorang pemimpin rombongan.

Subhanalloh, pelajaran ini memberikan hikmah bahwa amanah dan tugas pemimpin yang berat hendaknya dipikul secara bersama-sama. Tak selamanya seseorang mampu menanggung tanggung jawab yang begitu berat. Sekuat apapun orang tersebut pasti ada batas dan kelemahannya. Organisasi tidak boleh mengandalkan individu dan mandeg tanpa kaderisasi. Sistem yang kita ciptakan harus mampu menutupi keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki pelaku-pelakunya. Oleh karena itu, optimalkan segala potensi setiap kader karena masing-masing memiliki kemampuan, kapasitas, dan keunikan yang berbeda serta saling melengkapi. Perbanyak upaya merekrut orang baru karena boleh jadi salah satu diantara mereka adalah pemimpin bangsa di kemudian hari.

PELAJARAN KEEMPAT

Angsa-angsa yang terbang dalam formasi ”V” ini kerap mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang. Suara itu tidak lain ditujukan untuk memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan. Alhasil, kecepatan terbang selalu dapat dijaga dengan konsisten.

Pelajaran yang dapat kita petik adalah kita harus memastikan bahwa setiap kita mempunyai peran sebagai sumber kekuatan bagi jamaah. Sekecil apapun peran itu sungguh merupakan aset yang tak ternilai bagi umat ini. Ingatlah bahwa dalam kelompok yang saling menguatkan ternyata hasil yang dicapai menjadi lebih besar (sinergi). Pastikan suara/ide/aspirasi kita merupakan hadiah terbaik dalam rangka menguatkan kehidupan yang lebih baik dalam jamaah ini. Bila kita menemukan ketidaksetujuan sampaikanlah pada saluran yang benar. Janganlah kritik kita umbar kepada orang-orang yang tidak mengetahui duduk persoalan karena akan semakin menambah persoalan.

PELAJARAN KELIMA

Ketika seekor angsa jatuh sakit atau terluka, maka dua angsa lain (di sebelahnya) akan keluar dari formasi bersama angsa yang naas tersebut. Ternyata kedua angsa itu ikut terbang turun untuk membantu dan melindungi. Mereka tinggal sementara dengan angsa yang jatuh itu sampai si angsa mati atau dapat terbang lagi. Apabila si angka kembali sehat, mereka akan terbang membentuk formasi kecil sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan besar mereka.

Dari pelajaran di atas dapat dipetik hikmah bahwa seekor angsa saja memiliki sifat empati sesama jenis tentu kita bisa mencontohnya lebih baik lagi. Setiap murobbi harus mengetahui permasalahan yang dialami para mutarobbinya. Jangan hanya bisa memberikan taklif, tapi kita tidak mau tahu masalah yang sedang dialaminya. Sungguh lucu bila kita menerima informasi musibah binaan bukan langsung dari yang bersangkutan, melainkan dari orang lain. Sebaliknya, jangan pula seorang mutarobbi senantiasa menjadi beban permasalahan bagi jamaah ini.

Sungguh dalam setiap ciptaan Alloh terdapat pelajaran bagi kaum yang berfikir. Burung sebagaimana yang Alloh firmankan juga mahluk seperti kita. Dan dari kehidupan mereka ternyata kita banyak mendapat pelajaran. Wallohu a’lam bishshowab.

11 August 2008

URGENSI DAN KEKUATAN DO’A DALAM DA’WAH DAN JIHAD

TAUJIH PEKANAN:

URGENSI DAN KEKUATAN DO’A DALAM DA’WAH DAN JIHAD


Agar kader memahami urgensi dan peranan do’a sebagai senjata mu’min dan kekuatan yang tak terkalahkan serta kader terdorong untuk merutinkan doa dan wirid terutama kondisi sekarang ini doa untuk kemenangan Dakwah SAE di kab Bogor .

اَلْحَمْدُ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُه، وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرْيِكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا، وَحَبِيْبِنَا، وَشَفِيْعِنَا، وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلى نَهْجِهِ، وَجَاهَدَ فِيْ سَبْيِلِهِ، وَاهْتَدَى بِسُنَّتِهِ إَلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ :
فَقَدْ قَالَ اللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، حَاكِيَا دَعاَءَ عِبَادِهِ اَلْمُجَاهِدِيْن ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
[البقرة : 250]،
وَيَقُوْلُ الرَّسُوْلُ  : اللّهُمّ انْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَني، اللّهُمّ آتِنِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللّهُمّ إِنّكَ إنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أهْلِ الإسْلاَمِ لاَ تُعْبَدُ فِي اْلأَرْضِ [متفق عليه]
، صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ، وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ، وَنَحْنُ عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ

Ikhwati fillah …
Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini, Allah swt mempertemukan kita dalam suasana tawashaw bil haqq wa tawashaw bish-shabr. Suasana saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran. Juga dalam suasana tawashaw bil marhamah, suasana saling berwasiat dengan kasih sayang. Suasana tafaqquh fiddin, suasana menambah dan memperdalam pemahaman kita terhadap agama kita. Semoga Allah swt memberikan manfaat dan keberkahan dalam pertemuan ini. Dan semoga kita semua senantiasa dalam lindungan, ‘inayah dan ri’ayah-Nya. Amin.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan dan panutan kita Muhammad saw. Juga kepada seluruh keluarga beliau, sahabat beliau, dan semua orang yang mengikuti sunnah dan manhaj beliau, berjihad di jalannya, menghidupkan sunnahnya dan menyebarkannya. Dan semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan bagian dari shalawat dan salam tadi. Amin.

Ikhwati fillah …
Kita sering mendengar ungkapan yang mengatakan: ad-du’a-u silahul mukmin (do’a adalah senjata orang beriman). Ungkapan ini, bukan merupakan hadits nabi saw. Namun, banyak ayat Al Qur’an dan juga sunnah nabi saw yang shahih menjelaskan bahwa ungkapan itu secara makna adalah ungkapan yang shahih. Oleh karena itu, ikhwati fillah, jangan sampai kita melalaikan senjata yang satu ini. Karena tidak semua orang mampu menggunakannya kecuali orang-orang beriman..

Banyak ayat-ayat Al Qur’an menjelaskan kepada kita, betapa do’a adalah kekuatan yang ampuh dan dahsyat. Doa yang dipergunakan oleh para anbiya’ wal mursalin dalam perjalanan da’wah dan jihad mereka.

Kita ingat, kisah tentang nabiyullah Nuh ‘alaihis-salam melakukan jihad da’awi siang dan malam secara sembunyi dan terang-terangan. Jihad yang dilakukan selama sembilan ratus lima puluh tahun. Ternyata masyarakat yang menerima da’wah beliau hanya sedikit saja. Menghadapi kondisi demikian beliau memanjatkan do’a kepada Allah swt:

Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma`siat lagi sangat kafir". (QS Nuh: 26 – 27)

Demikianlah kemudian akhirnya kita ketahui ternyata Allah swt memang membinasakan seluruh orang-orang kafir itu. Sesuai do’a yang dipanjatkan oleh nabi Nuh ‘alaihissalam.

Kita juga teringat tentang do’a nabiyullah Musa ‘alaihis-salam kepada Allah SWT yang ditujukan untuk Fir’aun dan bala tentaranya. Karena mereka sudah benar-benar melampaui batas dalam kecongkakan dan kepongahan dengan mengandalkan berbagai macam kekuatan duniawi yang dimilikinya. Saat itu nabiyullah Musa ‘alaihis-salam berdo’a:

Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksan yang pedih”. (QS Yunus: 88)

Kemudian selanjutnya kita ketahui apa yang menimpa Fir’aun dan bala tentaranya, mereka semua ditenggelamkan Allah swt di lautan.

Semua kisah tersebut di atas adalah contoh do’a-do’a para nabi kepada Allah swt. Doa agar Allah menghancurkan orang-orang yang melampaui batas dalam melakukan pembangkangan terhadap ajaran Allah swt, para nabi dan rasul-Nya. Terdapat pula contoh lain, yaitu do’a para nabi yang mengharapkan agar kaumnya mau menerima da’wahnya.

Salah satu diantaranya adalah do’a nabiyullah Muhammad saw. Doa ketika da’wah beliau kepada orang-orang Thaif disambut dengan lemparan batu dan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan. Saat itu beliau saw memanjatkan do’a kepada Allah swt dengan mengatakan:

اَللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
Ya Allah, berikanlah petunjuk dan hidayah kepada mereka, sebab mereka tidak mengetahui

Setelah kurang lebih sepuluh tahun kemudian seluruh penduduk Thaif menyatakan masuk Islam, berarti ada jarak kurang lebih 10 tahun antara do’a nabi Muhammad saw dengan kenyataan mereka menerima hidayah Allah swt.

Yang menarik, saat terjadi gelombang massal pemurtadan pada masa Khalifah Abu Bakr As-Shiddiq di Jazirah Arab, orang-orang Thaif tidak termasuk golongan yang murtad. Pemimpin mereka berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, janganlah kalian murtad, sebab kalian adalah yang paling akhir masuk Islam, maka janganlah kalian menjadi yang pertama dalam kemurtadan!”

Ikhwati fillah …
Do’a juga merupakan rujukan terakhir orang-orang beriman saat mereka menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan besar. Khususnya saat mereka berjihad di jalan Allah swt.
Kita bisa renungi bagaimana saat pasukan Thalut berhadapan dengan pasukan Jalut yang besar dan dahsyat. Saat itu mujahidin mukminin melihat betapa besar dan hebatnya kekuatan pasukan Jalut, maka mereka memanjatkan do’a kepada Allah swt:

Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdo`a: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". (QS Al Baqarah: 250)

Maka, do’a itu membuat Allah swt memberikan kemenangan-Nya kepada mereka. Sekalipun jumlah dan peralatan mereka sangat tidak sebanding dengan apa yang dimiliki pasukan Jalut, sebagaimana tersebut pada ayat setelahnya.

Do’a yang mirip dengan do’a pasukan Thalut diatas adalah do’a nabi Muhammad saw ketika menghadapi pasukan yang menjadi kekuatan utama musyrik Makkah, di bawah pimpinan Abu Jahal cs pada perang Badr Kubro. Saat itu nabi Muhammad saw terus berdo’a kepada Allah swt tiada henti-hentinya, begitu khusyu’ dan seriusnya, hingga selendang (baju penutup tubuh bagian atas) beliau terjatuh. Beliau memanjatkan do’a:

اللّهُمّ انْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَني، اللّهُمّ آتِنِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللّهُمّ إِنّكَ إنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أهْلِ الإسْلاَمِ لاَ تُعْبَدُ فِي اْلأَرْضِ [متفق عليه]

Ya Allah, penuhi dan wujudkan apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah, berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah, jika golongan Islam ini binasa, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi ini (HR Muttafaqun ‘alaih).
Dan sebagaimana diabadikan oleh sejarah, pada hari itu Allah swt menghancurkan kekuatan utama musyrik Makkah.

Ikhwati fillah …
Da’wah dan jihad kita sekarang ini sedang menghadapi tantangan besar. Khususnya di Kab. Bogor, Allah telah berikan kesempatan kepada kita untuk Badllul Juhdi ( maksimalisasi penggunaan potensi yang kita punyai dan ikhtiar yang kita mampu) dalam perjuangan Pilkada bulan ini, tujuan yang kita inginkan jelas, tinggal kita rapatkan barisan, serasikan langkah, usaha maksimal serta munajat dan doa kita panjatkan pada dzat yang maha memiliki segalanya, Allah al ‘Aziz, Al Qowy, al Qohhar wal Jabbar.

Semoga Allah menangkan Dakwah SAE dan Allah lemahkan semua makar dan tipudaya musuh musuh dakwah walillahi an nasr wal fadllu wal minah

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS. Ali Imran 54)

Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari. (QS AnNaml:50)

Optimalkan dalam munajat dan Doa terutama waktu-waktu mustajabah (waktu-waktu yang lebih dekat kepada terkabulkannya do’a), Khususnya di sepertiga malam terakhir saat banyak manusia terlelap tidur.

Demikianlah, semoga kita termasuk orang-orang yang tidak terhalangi untuk mendapatkan pahala para mujahidin dan da’i, dan tidak pula terhalangi dari kemenangan dakwah amin ya Rabal ‘alamin

Sumber : taujihat pekanan Kaderisasi DPP dg beberapa penambahan

25 July 2008

Menjaga Iraqah Qowiyah Dalam Dakwah

Dan apakah orang yang dulunya mati, lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya (keimanan) yang di mana ia berjalan di tengah-tengah manusia dengan cahaya tersebut, seperti orang yang masih dalam kegelapan yang di mana ia tidak bisa keluar darinya …” (QS 6:122).

Pendahuluan

Ikhwah Fillah…
Di saat tonggak keimanan tertancap dalam jiwa seorang muslim, maka perubahan demi perubahan yang mengarah kepada kebaikan akan terlukiskan dalam lembaran-lembaran kehidupannya. Pada akhirnya, akal menjadi tershibghah dengan nilai-nilai Islam, hati terbingkai dengan keyakinan-keyakinan akan nilai-nilai kebenaran dan jasad akan lelah mengikuti keinginan dan kehendak akal dan hati yang telah terwarnai nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan Islam tersebut. Di sini ia telah menghimpun kesalehan-kesalehan pribadi. Namun ia tidak boleh puas hanya berhenti di sebuah terminal kesalehan pribadi. Ia harus berusaha keras agar mampu mentransfer nilai-nilai kesalehanya ke dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi yaitu ruang lingkup keluarga dan masyarakatnya. Di sini ia telah berada pada tangga kehidupan yang sesungguhnya, kehidupan yang mampu memberi kontribusi riil kepada masyarakat yang di mana ia berada di tengah-tengahnya. Inilah tangga “shalih mushlih”, orang-orang saleh yang senantiasa memberikan kesalehannya kepada orang lain. Allah SWT berfirman:

Dan apakah orang yang dulunya mati, lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya (keimanan) yang di mana ia berjalan di tengah-tengah manusia dengan cahaya tersebut, seperti orang yang masih dalam kegelapan yang di mana ia tidak bisa keluar darinya …” (QS 6:122)

Ikhwah Fillah…
Gerakan ishlah harus ada di tengah-tengah ummat yang telah kehilangan pegangan hidupnya, di tengah-tengah masyarakat yang telah kehilangan arah dan tujuan hidupnya dan di tengah-tengah dahsyatnya gelombang kemaksiatan, kemunkaran dan kelaliman. Dengan gerakan inilah kita akan merubah wajah buruk masyarakat, mengisolisir gerakan kebatilan, membangun pilar-pilar kebaikan dan melahirkan generasi-generasi yang siap untuk membawa obor estafet dakwah.

Perjalanan Dakwah

Ikhwah Fillah…
Perjalanan dakwah bukanlah perjalanan yang penuh dengan hamparan permadani rehat dan kenikmatan. Akan tetapi perjalanan yang penuh dengan onak dan duri ujian. Perjalanan yang senantiasa diwarnai dengan debu-debu hasutan dan tuduhan, kerikil-kerikil cobaan dan bebatuan ancaman serta siksaan. Pengorbanan dan perjuangan merupakan keniscayaan di jalan ini. Itulah yang pernah dialami oleh semua para Nabi dan Rasul. Semua manusia yang meniti jalan dakwah sesudahnya. Mereka akan menghadapi gelombang ujian yang terus menerus sampai tercapainya sebuah kemenangan yang dijanjikan Allah SWT. Mereka terus melakukan pengorbanan demi pengorbanan baik waktu, tenaga, harta dan jiwa. Itulah dakwah, ia adalah “tadhhiat” (pengorbanan) bukanlah “istifadah’” (memanfaatkan). Coba kita perhatikan firman Allah di bawa ini;

Dan sungguh para Rasul sebelum kamu telah didustakan, namun mereka senantiasa sabar atas apa yang mereka dustakan dan mereka (para Rasul) telah disakiti hingga akhirnya datang kepada mereka pertolongan Kami…” (QS 6:34)

Ikhwah Fillah…
Pada marhalah makiyah, Rasulullah SAW telah menghadapi banyak tantangan dan rintangan dalam dakwah. Beliau berhadapan dengan pamannya sendiri, Abu Lahab yang selalu menghalang-halangi jalan dakwah bersama istrinya, Ummu Jamil. Sementara itu cercaan, tuduhan, ancaman, penangkapan dan siksaan silih berganti mewarnai kehidupan dakwah Beliau. Bahkan pernah mengalami embargo yang dilakukan oleh Kuffar Quraisy selama tiga tahun lamanya. Di sisi lain, sebagian para sahabat mendapatkan ancaman dan siksaan yang serius dari tangan-tangan Kuffar sebagaimana yang dialami Abu Bakar, Ammar, Sumayyah, Khabab bin Art, Bilal dan yang lainnya. Meskipun dahsyatnya ujian dan beratnya cobaan dalam dakwah, mereka tetap sabar dan teguh dalam memegang prinsip-prinsip kebenaran. Mereka tidak pernah merasa loyo, lemah dan payah di jalan yang telah dipilihnya. Mereka terus bangkit dan melaju dalam melakukan perubahan dan perbaikan. Allah SWT berfirman;

Dan banyak Nabi yang telah berperang bersama para cendekiawan, mereka tidak pernah merasa lemah atas musibah yang menimpa mereka di jalan Allah, mereka tidak pernah loyo dan tidak pernah merasa hina. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.(QS 3:146)

Begitu juga yang dialami oleh para dai sesudahnya hingga dewasa ini. Memang perjalanan dakwah penuh dengan tangan-tangan besi musuh-musuh Islam, selalu diwarnai dengan makar para penguasa lalim dan senantiasa dipenuhi bebatuan ujian dan cobaan. Oleh karenanya tatkala kita meyakini dengan kebenaran “mabaadi” (prinsip-prinsip) dakwah ini dan berikrar untuk setia dalam memperjuangkan nilai-nilai atau fikrah-fikrahnya, maka kita harus siap menghadapi segala kemungkinan, segala ujian dan rintangan di jalan dakwah ini. Hal ini merupakan resiko yang harus kita terima dan sebuah konsekuensi dari pilihan afiliasi kita dengan dakwah ini.

Iradah Qawiyah; Sebuah Keharusan

Ikhwah Fillah….
Setelah tergambar dengan jelas tentang resiko perjalanan dakwah, seorang dai harus senantiasa menjaga kebugaran ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah. Dengan hubungan yang kuat kepada Allah dan kematangan fikriyah, seorang dai akan terus eksis menebarkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan Islam di tengah-tengah masyarakatnya.
Dan salah satu factor yang menjadikan du’at bertahan dan terus eksis di jalan dakwah adalah adanya hamasah (semangat) dan iradah (kehendak) kuat yang tertanam dalam jiwa mereka. Tanpa iradah mustahil kita bergerak dan melangkah untuk kepentingan dakwah. Dan tanpa hamasah yang membara, jiwa-jiwa kita akan mudah loyo dan terpuruk. Itulah iradah dan hamasah yang lahir dari kekuatan “yaqdlah ruhiah” (kesiagaan ruhani). Iradah yang merupakan anak panah yang membimbing para dai untuk sampai sasaran-sasaran yang dibidik ole dakwah. Muassis dakwah ini hanya menginginkan kader-kader yang bergabung di dalamnya adalah kader-kader atau para da’I yang memiliki jiwa-jiwa muda yang senantiasa membara dan semangat yang menggelora dalam medan dakwah. Oleh karenanya, Imam asy-Syahid berkata dalam risalah “da’watunaa fii thaurin jadiid”: “Kami hanya menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat dan muda, hati yang baru nan berkibar, emosi-emosi yang pencemburu, menyala-nyala dan meronta-ronta serta ruh-ruh yang memiliki obsesi, pandangan jauh dan menari-nari yang menghayalkan teladan-teladan tinggi dan tujuan-tujuan agung…” (Majmu’at Rasaa-il, hal233)
Dalam risalat “hal nahnu qaumun ‘amaliyyun” beliau berkata: “Dan tidak ada bekal yang layak bagi umat dalam meniti jalan yang keras dan mengerikan ini kecuali jiwa yang beriman, tekad kuat nan jujur, kegemaran berkorban dan berani menanggung resiko. Dan tanpa ini semua gerakan dakwah akan dikalahkan dan kegagalan menjadi sahabat putra-putra dakwah.” (Majmu’at Rasaa-il, hal 69)

Ikhwah Fillah….
Jadi iradah dan hamasah merupakan sebuah keniscayaan dan keharusan dalam memperjuangkan fikrah dakwah ini. Karena fikrah dakwah ini tidak mungkin dirasakan oleh masyarakat dan menjadi opini umum kecuali adanya kekuatan hamasah dan iradah yang bersemayam dalam jiwa para dai. Fikrah dakwah ini bias sukses apabila ada kekuatan iman, keikhlasan di jalannya, kekuatan hamasah, kesiapan berkorban dan beramal untuk merealisasikan tujuan-tujuannya.

Kiat-kiat Menumbuhkan dan Menjaga Iradah Qawiyah

Ikhwah Fillah…
Untuk menumbuhkan dan menjaga iradah qawiyah dalam diri seorang dai, maka harus dilakukan beberapa langkah berikut ini;
Pertama, Keimanan yang kuat akan kebenaran prinsip dakwah
Dengan mengimani kebenaran prinsip-prinsip dakwah, maka seorang kader atau dai akan terus memperjuangkan nilai-nilainya tanpa mengenal lelah, bosan dan loyo dalam bergerak. Keimanan inilah yang mampu membangun, menumbuhkan dan memelihara iradah dan semangat yang telah mengakar dalam jiwa seorang dai. QS 22:77

Kedua, Pemahaman yang Integral dan Komprehensif Tentang Visi dan Misi Kehidupan
Ketika kita memahami dengan benar tentang visi dan misi kehidupan, maka akan lahir sebuah kehendak yang kuat dan hamasah yang menggelora untuk bias mewujudkan visi misi ini. Kita akan senantiasa berpacu dalam mengemban dan menebarkan nilai-nilai dakwah untuk mengisi ruang visi misi kehidupan kita. Semangat mencari ridha Allah dalam beribadah, berkarya, bekerja dan bermuamalah adalah semangat yang lahir dari pemahaman yang benar tentang visi misi kehidupan kita.

Ketiga, Memahami Perjuangan Para Nabi dan Rasul(QS:Nuh:5-10)
- Nuh berkata: "Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku Telah menyeru kaumku malam dan siang,
- Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).
- Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (kemukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.
- Kemudian Sesungguhnya Aku Telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,
- Kemudian Sesungguhnya Aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam,
- Maka Aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun-, …. Nuh 5-10
- Dakwah Ini dilakukan setelah da'wah dengan cara diam-diam tidak berhasil.
- sesudah melakukan da'wah secara diam-diam Kemudian secara terang-terangan namun tidak juga berhasil Maka nabi Nuh a.s. melakukan kedua cara itu dengan sekaligus.

Keempat, Memahami sunnatul ibtila dalam dakwah
- Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
- Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka
Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta. Al Ankabut2-3
- Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan Karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Al Buruj 8

Kelima, Membangun sensitivitas yang kuat
Dan dengan memahami perjuangan, pengorbanan dan sunnatul ibtila dalam dakwah, akan memperkokoh iradah dan semangat kita dalam menebarkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan di tengah-tengah masyarakat.

Ikhwah Fillah…
Semoga kita benar-benar menjadi kader dakwah yang memiliki simat ikhwani dan memiliki iradah kuat serta memiliki api hamasah yang tak pernah padam dalam beraktivitas di medan perjuangan dakwa kita. Wallahu A’lam Bish-shawwab.

Sumber: Taujih Pekanan DPD PKS Kab. Bogor

17 July 2008

Membangun Keluarga Mencintai Islam & Dakwah

Materi Taskif Dakwah Keluarga
Oleh: E. Wibowo

Ada prinsip yang mengatakan bahwa dibalik keberhasilan sejati seorang tokoh terdapat sebuah keluarga yang menopangnya. Prinsip ini sulit dinafikan apabila kita melihat kenyataan fitrah bahwa setiap individu mesti berkeluarga. Keluarga yang dimiliki seseorang ibarat tiang penyangga bangunan keberhasilannya. Jika tiang tersebut runtuh, maka keberhasilan yang diperolehnya akan berangsur runtuh namun jika tiang itu mampu menopang selama mungkin, maka keberhasilannya itupun akan terus berlangsung. Banyak contoh di dunia ini yang memperlihatkan hal demikian.

Banyak para penguasa negara di dunia ini yang runtuh kekuasaannya ketika keluarga yang dimilikinya tidak lagi mampu menopang keberhasilannya. Sebut misalnya penguasa yang hancur karena anak-anak yang dimilikinya merusak kekuasaannya atau penguasa yang hancur karena keretakan rumah tangganya dan sebagainya.
Menyadari kenyataan tersebut, seorang yang ingin memperoleh keberhasilan dan ingin berhasil memeliharanya mau tidak mau harus dapat membangun basis keluarganya dengan sebaik-baiknya. Begitupun seorang da’I yang tugas utamanya adalah melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada seluruh manusia perlu membangun basis keluarga ini dengan sebaik mungkin. Fokus dakwah yang kerap terbelah pada da’I-da’I yang tergolong da’I sepuluh umat, seratus umat hingga da’I sejuta umat adalah bahwa mereka sering lebih berhasil menyadarkan banyak orang tapi gagal dalam mendakwahi keluarganya sendiri. Jika keadaan ini berlanjut terus maka dampaknya orang akan berangsur-angsur meninggalkan dakwahnya ketika mulai terkuak bahwa keluarga sang da’I tersebut ternyata tidak mencerminkan dakwah yang dibawanya.
Ajaran Islam sebagai sebuah dienul fitrah memandang besar persoalan dakwah keluarga ini, sama besarnya dengan persoalan dakwah kepada yang lainnya. Bahkan ketika seruan kepada obyek dakwah yang lainnya masih menggunakan kata yang umum berupa ‘amar ma’ruf nahi munkar’, maka seruan kepada da’wah keluarga langsung mengarah pada sasaran akhirnya yaitu ‘memelihara dari api neraka’ sebagaimana Allah SWT nyatakan :

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS At Tahrim : 6)

Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas menukil atsar : dari Sufyan At Tsauri ra yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib ra berkata bahwa pemeliharaan keluarga itu dilakukan dengan mendidik akhlak/adab dan pengetahuan keluarga.

Untuk memahami besarnya peran keluarga dalam dakwah maka kita bisa melihat ketika Rosulullah SAW pertama kali mendapat wahyu dari Allah SWT di Gua Hira beliau bergegas kembali ke rumahnya dan mengabarkan keadaanya kepada isteri beliau Khadijah ra. Dalam siroh kita mengetahui Khadijah ra dapat membesarkan hati Rosulullah untuk mengemban dakwah ketika itu dengan perkataannya :

“Bergembiralah dan tabahkanlah hatimu. Demi Dia yang memegang hidupku, aku berharap kiranya engkau akan menjadi nabi atas umat ini. Sama sekali Allah tidak akan mencemoohmu sebab engkaulah yang menyambung silaturahim, jujur, mau memikul beban orang lain, menghormati tamu, dan menolong mereka yang dalam kesulitan.”

Al Qur’an secara variatif juga menjelaskan dinamika dakwah para rosul kepada keluarga mereka masing-masing dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Hal ini setidaknya mengingatkan kepada kita bahwa (1) dakwah keluarga adalah satu prioritas di antara prioritas lainnya, dan (2) perlu upaya keras dan sungguh-sungguh melaksanakan dakwah keluarga karena peluang ketidakberhasilanpun terjadi di kalangan para suri tauladan dakwah itu sendiri (atas kehendak Allah SWT). Di antara yang dikisahkan Al Qur’an antara lain adalah dakwah keluarga Nabi Ibrahim as (QS 37/101-102), Nuh as (QS 11/42-43), Luth as (QS 11/80-81), dsb.
Satu urgensi dakwah keluarga yang tidak boleh juga dilupakan dalam dakwah adalah bahwa da’wah kepada keluarga adalah tahapan da’wah ke dua dari lima tahapan dakwah Ikhwan (pribadi, keluarga, masyarakat, negara dan dunia). Asholah dakwah atau abjadiyah da’wah mengharuskan kita menempuh tahapan dakwah keluarga sebelum menempuh tahapan-tahapan yang lain jika kita menginginkan dakwah tersebut mencapai keberhasilan. Satu contoh perjalanan dakwah yang menggambarkan kebutuhan akan kekuatan dakwah keluarga adalah ketika hampir ribuan ikhwah pada tahun 1948 ditahan di penjara-penjara Mesir seperti Ath-Thur dan Haiktasab hingga hanya menyisakan Hasan Al Banna seorang di luar penjara karena sengaja dibuat demikian. Kita tidak mendengar adanya keluhan dari keluarga-keluarga ikhwah ketika mereka satu per satu didatangi oleh Al Banna untuk membesarkan hati mereka. Peristiwa yang lebih besar bahkan juga pernah terjadi di zaman Rosulullah ketika para keluarga yang ditinggal syahid suami dan bapak mereka dalam peristiwa pembantaian 40 hufadz di Bir’ul Ma’unnah (625 M) tidak sekalipun mengajukan protes kepada Rosulullah SAW.

PENGOKOHAN KELUARGA INTI

Jika kita fahami urgensi dakwah keluarga seperti diuraikan di atas, maka target pertama dari dakwah keluarga adalah menciptakan keluarga inti yang kokoh (suami/istri dan anak-anak). Sasaran dari pengokohan keluarga inti adalah terbentuknya Mana’ah Islamiyah (daya tahan Islami) dalam menghadapi berbagai goncangan dan fitnah dunia. Tentu saja langkah ke arah tersebut adalah dengan pertama kali masing-masing anggota keluarga terlibat dalam tarbiyah Islamiyah.
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi rumah tangga, maka diberikan kecenderungan mempelajari agama, yang muda menghormati yang tua, dicukupkan rizkinya dalam kehidupan, sederhana dalam kehidupan, mampu melihat kekurangan dan kemudian bertaubat. Jika Allah menghendaki yang sebaliknya, maka dibiarkannya keluarga itu dalam kesesatan.” (HR Ad Dailami)

Setelah tarbiyah dalam keluarga, maka secara garis besar pengokohan keluarga itu dilakukan dengan mengusung agenda-agenda pengokohan yang antara lain berupa :

AGENDA 1 : MENGOKOHKAN HUBUNGAN SUAMI DAN ISTRI

Aktor utama dalam keluarga adalah suami dan istri. Secara fungsional keduanya adalah dwitunggal yang sama-sama memiliki tugas dengan bobot tanggungjawab yang sama. Perbedaannya adalah secara struktural, sang suami memiliki wewenang yang lebih dibanding sang istri dalam hal misalnya wewenang untuk pengambilan keputusan sangat penting dalam keluarga. Inilah yang dijelaskan Al Qur’an :
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (QS 4/34)
Membangun hubungan suami dan istri yang baik adalah kewajiban yang diutamakan dalam Islam. Begitu pentingnya persoalan ini hingga Rosulullah dalam hadits bersabda :

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik perangainya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Turmudzi)
Kendala yang kerap terjadi dalam pengokohan hubungan suami dan istri adalah dalam hal komunikasi. Salah satu faktor penyebab keretakan rumah tangga adalah persoalan komunikasi ini. Faktor penyebab lainnya antara lain adalah faktor moral dan ekonomi.
Biasanya problem komunikasi ini terjadi pada masa-masa krisis komunikasi yang akan terjadi dalam perjalanan sebuah keluarga. Sebuah organisasi rumah tangga akan melewati fase-fase dalam daur hidupnya, yaitu : (1) fase pembentukan/FORMING, (2) fase pancaroba /STORMING, (3) fase penormaan/NORMING dan (4) fase prestasi/PERFORMING.
Fase pembentukan di awal rumah tangga biasanya komunikasi terjadi untuk tujuan penjajakan dan pengenalan karakter masing-masing suami/istri. Pada fase ini belum ditemukan adanya konflik yang berarti. Pada fase panca roba barulah terjadi penguatan karakter individual suami/istri sehingga komunikasi kerap dijadikan alat untuk pengokohan karakter. Penolakan dari salah satunya akan menyebabkan konflik yang menghebat. Di masa inilah barangkali krisis komunikasi bisa terjadi. Untuk menghindari persoalan, maka diperlukan kesadaran suami/istri bahwa komunikasi adalah juga dilakukan untuk pengokohan keluarga. Apabila berhasil melewati masa krisis pada fase panca roba, maka biasanya keluarga akan memasuki fase penormaan dengan membuat kesefahaman-kesefahaman masing-masing anggota keluarga. Pada fase ini komunikasi benar-benar digunakan untuk pengokohan keluarga. Fase berikutnya adalah fase memetik buah dari keberhasilan membangun komunikasi keluarga yaitu fase berprestasi di mana keluarga sudah mulai memperoleh pencapaian tertentu dalam kehidupan. Pada fase ini komunikasi adalah akselerator atau pemercepat prestasi keluarga.

Fase Utilitas Komunikasi Problem Komunikasi
Forming Pengenalan karakter individu Intensitas komunikasi kurang sehingga karakter ke dua belah pihak tidak semua diketahui Storming Penguatan karakter individu Salah faham hingga dapat menimbulkan penolakan dari salah satu atau kedua belah pihak
Norming Penguatan organisasi/keluarga Intensitas kurang sehingga perlu waktu lebih lama untuk menyepakati norma-norma keluarga Performing Penguatan prestasi Intensitas kurang sehingga prestasi keluarga tidak optimal
Sebagai satu pengetahuan, kita perlu mengetahui bahwa ternyata setiap orang memiliki orientasi komunikasi tersendiri. Memahami orientasi komunikasi seseorang dapat membantu kita memahami bahasa verbal dan non verbal yang ditampilkan. Orientasi komunikasi tersebut adalah :

Orientasi Karakteristik Positif Karakteristik Negatif Tindakan/Aksi(key : what)Cepat bertindak, senang bekerja untuk memperoleh hasil, to the point, pragmatis dsb. Kurang sabar, menerobos aturan Proses/Prosedur(key : how) Hati-hati, mengikuti aturan main, sabar, sistematis, melihat fakta, logis, analisis, strategs dsb. Bertele-tele, birokratis Manusia (key : who)Empati, spontan, sensitif, penuh pengertian, bekerjasama, hangat dsb.Emosional, subyektif Gagasan(key : why)Teoritis, konseptual, inovatif, kreatif, mencari alternatif, imajinatif, kharismatis dsb Tidak realistis, sulit dimengerti, selfish

Pada akhirnya ketika urgensi pengokohan hubungan suami dan istri sudah difahami, maka kita perlu mengetahui beberapa nasehat ajaran Islam dalam hal ini, yaitu :

• Memahami dengan benar tujuan hidup berumah tangga
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya (sakinah), dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS 30:21)
• Pembagian tugas yang jelas antara suami dan istri
“Seorang suami adalah pemimpin atas seluruh anggota rumahnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya.” (HR Bukhari - Muslim)

• Suami bertanggungjawab atas tarbiyah istrinya
Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS 4/34)
“Allah merahmati laki-laki yang bangun malam kemudian sholat lalu membangunkan istrinya hingga dia sholat, jika ia tidak mau maka ia memerciki wajah istrinya dengan air.” (HR Ahmad, Abu Daud)

• Masing-masing senantiasa memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS 3/102)
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS 65/2-3)
“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS 65/4)

• Membangun rasa saling mempercayai (tsiqoh) antara suami dan istri
Sikap saling mempercayai dan tidak berprasangka buruk antara suami dan isteri adalah fundamen penting dalam menjaga keharmonisam rumah tangga. Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain..” (QS 49/12)
• Memperhatikan penampilan diri untuk masing-masing pasangannya
“Adalah Rosulullah SAW jika hendak masuk ke rumahnya beliau bersiwak” (HR Muslim)
Terhadap kaum wanita Rosulullah melarang berhias kecuali untuk suaminya sendiri, sebagaimana beliau bersabda :

“Perumpamaan wanita yang berhias untuk selain suaminya, adalah bagaikan kegelapan pada hari kiamat, tidak ada cahaya baginya.”

• Saling menghibur diri untuk mengurangi ketegangan
“Segala sesuatu yang di dalamnya tidak ada dzikrullah adalah sia-sia kecuali empat hal : … bercandanya seorang laki-laki terhadap istrinya….” (HR An Nasa’I)

AGENDA 2 : MANAJEMEN EKONOMI KELUARGA

Problem pengokohan keluarga inti yang berikutnya adalah soal perekonomian keluarga. Tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi ekonomi keluarga akan mempengaruhi soliditas keluarga. Banyak keluarga yang tidak berprestasi bahkan hancur karena menafikan persoalan ekonomi ini. Pentingnya persoalan ini amat diperhatikan dalam Islam :
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara yang ma`ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (QS 2/233)

Rosulullah SAW banyak memuji orang-orang yang bekerja untuk membangun ekonomi keluarga dan membenci orang yang menelantarkan keluarganya :
“Apabila seseorang menafkahkan hartanya untuk keperluan keluarganya hanya dengan mengharapkan pahala maka hal itu akan tercatat sebagai shadaqah baginya.” (HR Bukhari Muslim)
“Barangsiapa merasa letih di malam hari karena bekerja, maka di malam itu ia diampuni.” (HR Ahmad)

“Seseorang itu cukup berdosa bila ia menyia-nyiakan orang yang harus diberinya belanja (keluarganya).” (HR Abu Daud)

Manajemen ekonomi keluarga pada prinsipnya adalah upaya perencanaan, pengelolaan, penggunaan dan pengeontrolan keuangan keluarga sedemikian rupa sehingga mampu membiayai seluruh aktifitas keluarga dalam mencapai tujuan keluarga. Beberapa kaidah praktis dalam manajemen ekonomi keluarga adalah :

Penggalian sumber-sumber pendapatan keluarga
Pelaku utama dalam mencari nafkah keluarga adalah suami sesuai fitrah dan kaidah Al Qur’an. Namun Al Qur’an juga memberi peluang untuk wanita sebagaimana laki-laki mencari rezeki (QS 4:32). Persoalannya adalah pilihan pekerjaan apa yang halal yang sebaiknya dilakukan oleh wanita sebagai istri dalam rangka membantu kepala keluarga dengan tetap menjaga keutuhan rumah tangga. Al Qur’an juga mengisahkan tentang 2 orang wanita yang bekerja membantu orang tua (QS 28/23), Asma ra bekerja merawat kuda suaminya (Zubair ra) dan beberapa sahabiyat juga dibolehkan bekerja bercocok tanam, memberi makan ternak dsb.
Berkaitan dengan penggalian sumber pendapatan keluarga, Rosulullah menyarankan untuk mencoba berdagang.
“Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya perdagangan itu di dunia ini adalah sembilan dari sepuluh pintu rezeki.” ( HR Ahmad ).
As Syahid Hasan Al Banna menyarankan untuk memiliki usaha mandiri sekalipun kecil sebagai penghasilan sampingan dan sekaligus menjaga kemandirian.
“Hendaklah engkau memiliki usaha ekonomi sekalipun engkau kaya dan upayakan usaha tersebut secara mandiri sekalipun kecil dan cukupkanlah dengan apa yang ada pada dirimu betapapun tingginya kapasitas keilmuanmu.” (Wajibat 15)

Perencanaan keuangan keluarga
Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja secara terencana dalam segala hal termasuk dalam mengatur keuangan keluarga. Perencanaan ini dilaksanakan dengan membuat pos-pos pengeluaran rutin (mis. konsumsi, pendidikan, transportasi, sandang, dakwah dll) dan pos pengeluaran temporer (mis. kesehatan, rekreasi dll). Termasuk perencanaan ini adalah menabung sebagaimana pesan Imam Syahid :
“Hendaklah engkau menyimpan sebagian dari penghasilanmu untuk persediaan masa-masa sulit meskipun sedikit dan jangan sekali-kali menyusahkan diri untuk mengejar kemewahan.” (Wajibat 23)

Pembelanjaan keuangan keluarga
Ajaran Islam memberikan rambu mengenai pengeluaran keluarga : tidak boleh boros (mubazir) (QS 17/26-27), tidak boleh besar pasak daripada tiang (yusrif) atau kikir (yaqtur) (QS 25/67), menunaikan zakat/infak/shodaqoh sesuai kadarnya (QS 9/103, 57/7), dan mementingkan hal-hal yang primer (awlayiat) daripada yang sekunder/tersier (kamaliyat) serta menjauhi kemewahan.
“..dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS 11/116)

AGENDA 3 : PENDIDIKAN ANAK

Agenda berikut yang penting adalah pendidikan anak. Pembahasan mengenai hal ini sebenarnya cukup panjang (mis. Dr. Abdullah Nasih Ulwan menulis dalam bukunya Tarbiyatul Awlad). Sebagai pedoman ringkas, berikut beberapa nash umum yang berkaitan dengan pendidikan anak :

1. Apa yang diajarkan pada anak ?
Pendidikan keimanan agar anak memahami tujuan hidup (minhajul hayyah) sedangkan pendidikan keilmuan lainnya ditujukan agar anak menguasai sarana hidup (wasa’ilul hayyah)

2. Bagaimana mendidik anak ?
Pendidikan yang efektif untuk anak adalah dengan memberikan contoh Islami dari orang tua (QS 33/21, 60/4-6) dan dengan menerapkan dialog Islami (QS 37/102)

3. Siapa yang mendidik anak ?
Pada prinsipnya orang tua lebih prioritas dalam mendidik anak terutama ibu karena lebih sering berinteraksi dengan anak.
“Hak seorang anak atas orang tuanya : diberikan nama yang baik, diajarkan Al Kitab, diajarkan berenang, memanah, diberikan rizki yang baik dan dinikahkan ketika telah dewasa.” (HR Al Hakim)
“Ibu adalah madrasah, bila engkau persiapkan dengan baik, maka sama dengan engkau mempersiapkan bangsa yang baik.” (Sya’ir Islam)
Peran guru dibutuhkan dalam rangka membantu peran orang tua yang memiliki keterbatasan (ilmu, waktu dsb). Metode seorang anak belajar pada seorang guru biasa dilakukan oleh para salafus sholeh antara lain kita mengetahui hubungan guru dan murid seperti pada : Imam Malik-Imam Syafii, Imam Syafii-Imam Ahmad, Imam Ibnu Taymiyah-Ibnu Qoyyim dll.

4. Kapan waktu yang tepat mendidik anak ?
Pendidikan anak lebih urgen dilakukan semenjak anak itu masih kecil. Pada usia dini anak lebih mudah untuk dibentuk. Kita mengenal pepatah : belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa bagai mengukir di atas air. Di kalangan salafus sholeh kita mendengar banyak di antara mereka yang sudah dapat menghafal 30 juz Al Qur’an sejak usia 10 tahun bahkan lebih kecil lagi.
Jika ditanya kapan pendidikan itu sebaiknya berakhir, maka jawabannya adalah hingga seseorang itu menemui kematiannya. Prinsip ini dikenal dengan istilah tarbiyah madal hayyah atau long life education.

Wallahu ’alam

14 July 2008

KERJA SMART, RAIH KEMENANGAN SAE DI KABUPATEN BOGOR

”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (At-Taubah:41)


Ikhwah fillah rahimakumullah, kemenangan dakwah tidak akan diraih manakala kita tidak lakukan dengan strategi yang jitu. Perjalanan dakwah panjang ini telah memberikan pelajaran berharga bagi kita untuk meraih kemenangan-kemenangan dakwah. Bagaimana Rasulullah SAW mengatur strategi perang Badar hingga meraih kemenangan, dapat kita rasakan kelihaian Rasulullah memenangkan perang ahzab dari golongan sekutu kafir qurays, yahudi dan munafikin, dan bila kita buka lembaran sejarah kemenangan ummat Islam atas Persia, Romawi, merebut benteng khaibar, membebaskan Al-Aqsha dan seterusnya tentunya dilakukan dengan strategi yang matang.

Dalam kondisi saat sekarang, relevan manakala kita ingin meraih kemenangan dakwah melalui wasilah dakwah siyasi tentu saja harus dilakukan dengan strategi yang jitu. Strategi yang jitu bukan sekedar ditentukan oleh banyaknya dana, canggihnya peralatan/atribut dan banyaknya taujih tapi dari semua itu yang akan menentukan adalah karakter dan sikap kerja personal-personal yang mengelola aktivitas dakwah itu sendiri. Ada berbagai macam teori dan strategi dalam menghadapi peperangan dan pertarungan dalam bentuk apapun, namun ada sebuah ukuran dalam ranah menajamen modern yang telah banyak dikenal oleh kita semua, bahwa salah satu mengukur aktivitas manajemen yang baik adalah dengan metode SMART. Namun dalam hal ini, SMART yang dimaksud adalah bagaimana setiap ikhwah maupun akhwat dapat membentuk karakter dan sikap kerja yang SMART dalam memenangkan dakwah dimanapun dan kapanpun serta situasi apapun. Karakter dan sikap kerja SMART yang dimaksud adalah (Senang, Mandiri, Amal, Ridho dan Tangguh).

1. SENANG

Tidak dipungkiri bahwa pekerjaan apapun akan dapat dilaksanakan dengan baik apabila dilakukan dengan senang. Ikhwah wa akhwat fillah rahimakumullah, baru saja piala Euro 2008 nun jauh disana sudah usai. Tetapi betapa banyak dari masyarakat kita atau bahkan kita sendiri
karena senang dengan sepakbola rela menghabiskan waktu untuk menyaksikan tim kesayangan kita walau harus mengorbankan waktu tidur kita. Bahkan sebagian kita rela nonton bareng teman - teman ditempat tertentu atau sekitar rumah kita. Atau terkait dengan hobbi kita, apabila kita sudah senang dengan hobi tertentu maka kita akan melakukan apapun untuk merealisasikan hobi kita tersebut walaupun dalam kondisi yang sulit.

Ikhwan wa akhwat fillah rahimakumullah, begitupula dengan aktivitas memenangkan dakwah atau pilkada yang saat ini kita rasakan. SENANG merupakan sebuah daya ungkit kita melakukan apapun untuk memenangkan dakwah.

Senang kita melakukan Direct Selling, Senang kita memasang Baliho, Senang jika kita memasang spanduk, Senang jika kita silaturahim.

Sehingga fokus kita dalam melaksanakan aktivitas tersebut bukan karena diminta ketua DPD, Taujih dari MPD, atau Fatwa dari DSD, atau karena diminta laporan oleh Naqib/Murabbi antum, ta’limat dari Kaderisasi atau karena akan sidak dari struktur yang lebih tinggi. Tapi fokus aktivitas yang kita lakukan adalah Senang karena bisa jadi ladang beramal, Senang berbuat baik kepada orang lain, Senang kita bisa mengajak orang untuk berbuat baik, Senang bisa banyak bertemu orang melaksanakan sunnah rasul, Senang bisa bersedekah setiap jam/menit/detik karena senyum kita kepada saudara kita, Senang bisa tafakur melihat keberagaman ciptaan Allah, Senang kita bisa mewujudkan sikap Sabar karena menghadapi
tuntutan banyak orang dan hal-hal Senang lainnya yang semuanya akan dicatat sebagai amal shalih di akhirat kelak.

2. MANDIRI


Sikap mental mandiri, adalah sikap mental para pemenang, sikap mental para pemimpin & pejuang, sikap mental generasi terbaik ummat Islam sejak dahulu. Bagaimana Rasulullah pada saat mengutus Mus’ab bin Umai ke Madinah, beliau menanyakan kepada Mus’ab (kalimat bebas. red), pada saat engkau menemui masalah, Mus’ab menjawab: akan aku cari penyelesaian yang ada dalam Al-Qur’an, bila tidak ada aku akan cari dalam Hadits, dan
seterusnya hingga Mus’ab menjawab aku cari menggunakan akal fikiranku sesuai yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya kepadaku. Dalam dakwah kitapun ada sebuah semboyan kemandirian yang telah menjadi karakter dakwah ini ”Sunduquna Juyubuna”.

Memahami sunduquna juyubuna, bukan sekedar memahami bahwa dakwah ini dibiayai dari kantong para kadernya, tapi maknanya lebih luas dari hal tersebut. Bagaimana tidak, lapangan dakwah ini begitu luas dan penyebaran kader dakwah yang tidak merata sementara amanah dakwah tidaklah sedikit, tapi kita juga tidak perlu khawatir bahwa kader telah dibekali dengan manhaj Al-Qur’an n Sunnah, serta telah dibekali manhaj asasi dan operasional dakwah ini. Maka sikap dan berfikir mandiri untuk mengembangkan dan memenangkan dakwah ini adalah sebuah karya nyata yang harus kita tunaikan dengan bekal yang telah kita miliki.Kreativitas dan inovasi salah satu bagian dari kemandirian kita menyelesaikan persoalan-persoalan dakwah ini. Bila ada salah satu calon yang mengatakan ”berkarya nyata bukan berkarya kata” ini adalah slogan semu yang hanya digunakan untuk kampanyenya hari ini. Maka kitalah yang sebenarnya lebih berhak menyatakan hal tersebut, karena dakwah ini didirikan bukan hanya untuk berkata-kata, tapi kita dituntut untuk lebih banyak berbuat untuk masyarakat dalam rangka tegaknya syari’ah dan tidak bisa tidak kecuali didukung oleh kemandirian kader-kadernya.

3. AMAL


Menurut Asy-Syahid Hasan Al-Banna: kata amal adalah kata yang mengandung makna seluruh perbuatan/aktivitas seseorang yang dilakukan di atas dunia ini untuk menuju akhirat yang ia adalah buah dari ilmu dan keikhlasan. Ikhwah sekalian seseorang yang telah mendengar seruan dakwah ini, seorang yang benci terhadap kemungkaran dan keburukan yang sekarang
merajalela, mengetahui tujuan dakwah, mengetahui sasarannya dan mengetahui bagaimana metodanya, maka bekerja dan beramal adalah keniscayaan yang sudah Allah gariskan. Kita tidak berhak menentukan kita kalah atau menang hari ini, tapi yang Allah kehendaki adalah bekerja atas dasar ikhlas karena Allah. ”Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS:9:105).

Ikhwan wa akhwat fillah rahimakumullah, siapapun kita apakah kita sebagai anggota biasa, kader inti, ketua DPR, Ketua DPC, Ketua DPD dan seterusnya maka tuntutan amal sudah digariskan dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Yang paling bernilai di sisi Allah SWT adalah yang plaing Ahsan Amalnya. Maka yang paling baik bagi kita adalah bekerja sesuai dengan jalurnya secara optimal dan maksimal.

Inilah tanggung jawab kepemimpinan kita baik sebagai pribadi apatah lagi bila kita diberikan amanah menjadi pimpinan struktural dakwah ini di level manapun maka mewujudkan peran dan tanggung jawab pemimpin menjadi ladang amal untuk memenangkan dakwah ini. Seorang pemimpin apakah secara pribadi dan struktural harus berani mengambil keputusan, seorang qiyadah harus berani menanggung beban tanggungjawab dan tidak sekedar mengucurkan pekerjaan ke level yang lebih bawah, terlebih lagi setiap pemimpin harus dapat turun langsung untuk memberi tauladan terhadap perintah yang diberikan kepada a’dhonya, dan seterusnya. Dan kita semua adalah pemimpin itu, minimal pemimpin bagi diri sendiri dan keluarga kita. Ikhwah sekalian amal kita tidak dibatasi oleh waktu, amal kita tidak dibatasi oleh ada tidak adanya dana, amal kita tidak dibatasi berat ringannya kondisi kita, Allah SWT berfirman:
”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (At-Taubah:41)


Tidak pernah kita temui dalam Al-Qur’an, seorang Hamba Allah diizinkan oleh Allah untuk tidak beramal, kecuali manakala kita sudah dipanggil oleh Allah untuk menghadap keharibaan-Nya. Sehingga tidaklah pantas, bila hingga hari ini masih ada kader yang tidak bekerja untuk
memenangkan dakwah melalui pasangan SAE walaupun hanya dengan senyum kepada tetangga dan menanyakan bagaimana kabarnya, Sae-kah ibu/bpk/mba/teteh/akang hari ini? Sementara ikhwan & akhwat lainnya rela berpanas-panas ria untuk direct selling, ririungan hingga larut malam bertemu warga di desa-desa, kehujanan pasang baliho dan stiker, rapat
hingga larut malam, menyusuri pasar-pasar dan keramaian, mengeluarkan dana untuk membiayai kampanye SAE, dicaci dan bahkan diancam karena mensosialisasikan SAE, bahkan calon Bupati kita sendiripun jatuh sakit karena ingin mewujudkan amal amanah dakwah memenangkan dakwah. Ikhwan wa akhwat fillah rahimakumullah, maka yang kita lakukan adalah beramal secara optimal dan buktikan semuanya secara nyata sumbangan apa yang
bisa kita berikan untuk kemenangan dakwah ini, bangun kreativitas amal untuk mencari yang terbaik, insya Allah kemenangan itu akan kita raih dengan kerja sunguh-sungguh kita.

4. RIDHO


Ikhwan wa akhwat rahimakumullah, segala apa yang kita lakukan hari ini dan esok dalam kerja-kerja dakwah adalah semata-mata hanya mencari ridha Allah SWT bukan mencari yang lain. Karena inilah yang telah Allah perintahkan dalam QS : 6 : 162-163 : ”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah karena Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu
baginya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.”

Jadi ikhwan wa akhwat fillah rahimakumullah, tidak ada yang kita harapkan dari qiyamulail, tilawah qur’an, matsurat, shalat berjamaah, shalat dhuha dan ibadah kita lainnya kecuali untukmengharap ridha Allah SWT. Termasuk Direct seling kita, pasang baliho kita, pasang stiker kita, ririuangan kita dengan warga dan kampanye kita kecuali hanya mengharap ridho Allah SWT. Termasuk pula kondisi sulit, beban dan tuntutan yang begitu besar, kekurangan pangan, alat kampanye, ridho terhadap keputusan yang telah dibuat dan lain sebagainya. Maka bila kita lakukan dengan optimal-maksimal, hati yang ikhlas dan Allah ridha terhadap apa yang kita lakukan ditambah dengan doa mohon kemenangan SAE di setiap waktu dan waktu-waktu doa di ijabah, insya Allah kemenangan akan diberikan-Nya.

5. TANGGUH


Ikhwan wa akhwat rahimakumullah, mental berikutnya yang dapat memenangkan dakwah ini adalah bila para aktivitas dakwah memiliki mental tangguh, mental yang tidak mudah menyerah, mental yang tidak mengenal kata putus asa, mental yang tidak boleh kalah sebelum bertarung. Kita jangan merasa kecil hati dengan banyaknya baliho, stiker dan sembako yang ada di sekitar kita karena itu akan sia-sia belaka manakala hati masyarakat sebagai bagian dakwah tidak pernah tersentuh dan merasakan amal kita, hati masyarakat tidak pernah kita panah dengan senyum manis kita dan hati masyarakat tidak pernah kita ketuk dengan silaturahim dan kepedulian kita. Maka untuk menyentuh, memanah dan mengetuk hati
masyarakat dibutuhkan jiwa dan mental aktivitas yang tangguh. Karena sesungguhnya hati manusia itu adalah milik Allah, maka hanya Allah sajalah yang dapat mengendalikannya. Harta yang banyak tidak akan dapat membeli hati mereka, maka kitalah yang lebih berhak membeli hati mereka dengan jiwa dan mental tangguh kita karena hubungan kita yang erat dengan Allah SWT sang pemilik hati. Maka ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah, tidak ada jalan lain ketangguhan itu akan ada dalam diri kita, manakala kita dekat dengan Allah, kita senantiasa menjaga ibadah-ibadah kita dengan baik selelah apapun kondisi kita. Setelah kita dekat dengan Allah, bukan perkara sulit untuk dekat dengan manusia yaitu dengan cara 3S (Sapa, Senyum dan Silaturahim)

Ikhwan wa akhwat fillah rahimakumullah, inilah salah satu strategi kita memenangkan SAE di Kabupaten Bogor dengan sikap dan mental kerja yang SMART (Senang, Mandiri, Amal, Ridho dan Tangguh) semoga Allah berkahi, Raih Kemenagan SAE, Allahu Akbar!

Ikhwah sekalian marilah kita berlomba-lomba dalam kebajikan, jangan gantungkan amal antum karena ta’limat, jangan gantungkan amal antum dengan teguran para qiyadah, jangan gantungkan amal antum dengan kondisi ketidaksempurnaan, jangan gantungkan amal antum semua sisi yang kadang membuat antum tidak suka, tapi gantungkanlah amal kita hanya kepada Allah SWT sang pemilik kekuatan asalkan kita sudah bekerja dengan benar, tepat dan ikhlas.

05 July 2008

BILA DAKWAH MEMASUKI WILAYAH POLITIK

Da’wah para nabi dan utusan Allah bertujuan tegaknya agama (42: 15) di bumi. Sepanjang sejarah manusia agama Allah yang telah ditegakkan oleh para Rasul-Nya melahirkan peradaban-peradaban besar yang tersebar ke seantero dunia. Oleh sebab itu Toynbee memandang bahwa semua peradaban besar yang masih berlaku secara mendasar berorientasi keagamaan dan karena itu secara berangsur-angsur tetapi nyata menyajikan pemecahan-pemecahan keagamaan juga terhadap sejumlah organisasi sosial dan politik.


Sepintas lalu apa yang dikemukakan Toynbee tersebut di atas menyiratkan keniscayaan perjalanan da’wah agama-agama besar yang dilakukan para nabi dan utusan Allah. Keniscayaan itu berupa suatu keharusan memasuki wilayah sosial dan politik. Ini sesuai dengan watak agama-agama samawi sebagai jalan hidup yang membimbing totalitas kehidupan manusia dan mengantarkannya pada pencapaian cita-cita hidupnya, baik cita-cita plitiknya ataupun cita-cita moral keagamannya.

Dengan demikian, da’wah Islamiah berusaha keras agar agama Islam tegak di bumi dan dapat membimbing totalitas kehidupan manusia dalam menuju cita-cita hidupnya. Oleh karena itu ada semacam kecenderungan kuat bahwa gerakan-gerakan da’wah yang berkembang dewasa ini ingin melahirkan arus penegasan kembali identitas dan ideologi Islam serta cita-cita politiknya ke pentas politik. Banyak intelektual muslim yang coba memproyeksikan Islam sebagai sebuah ideologi yang menjadi landasan perjuangan politiknya yang memiliki implikasi amat luas bukan saja pada bidang politik tetapi juga pada bidang-bidang kehidupan lainnya.

Disadari bahwa kehidupan kaum muslimin dewasa ini menuntut pembaruan orientasi di kalangan gerakan da’wah. Pembaruan orientasi itu meliputi arah dan model da’wah yang sesuai dengan tuntutan dan problematika masyarakat kontemporer. Dalam menghadapi tuntutan-tuntutan ini semua gerakan da’wah hendaknya berorientasi pada pembangunan masyarakat Islam seperti halnya dilakukan Rasulullah SAW di Madinah, melakukan perbaikan (ishlah) pada masyarakat Islam yang telah mengalami pembusukan dalam pemikiran dan perilaku, dan memelihara keberlangsungan da’wah itu sendiri di kalangan masyarakat Islam.

Kendati demikian, ternyata kondisi seperti itu tidak memusnahkan semua potensi kekuatan serta peninggalan peradabannya. Aqidahnya tetap utuh dan ajaran-ajarannya tak tergusur meskipun usaha-usaha pembusukan dan langkah memandulkan dan meminggirkan Islam dan kaum muslimin terus berlangsung. Bahkan gerakan-gerakan da’wah yang ingin mengembalikan ‘izzatul Islam walmuslimin terus marak di hampir semua bagian di dunia ini. Gerakan-gerakan itu ingin menegakkan agama Allah di bumi dengan sejumlah agenda perubahan yang dicanangkan. Agenda-agenda itu umumnya bertitik tolak dari pembangunan manusia. Sasaran umumnya ialah agar manusia mampu berprestasi dan memberikan kontribusi dalam amal hadhari (gerakan peradaban).

Masyru’ Hadhari dan Perlunya Sebuah Tatanan

Sepanjang sejarahnya gerakan da’wah yang terus-menerus berkesinambungan itu dilakukan dengan menampilkan manhaj Islami yang terpadu, satu-satunya manhaj yang mampu menghadapi tantangan dan memiliki unsur-unsur pembentuk dan dinamika peradaban yang kokoh. Sebab, masyru’ al-hadharri al-Islami (proyek peradaban Islami) yang dicita-citakan tidak lain adalah proyek kemanusiaan universal yang bertujuan mencapai kebaikan manusia secara umum sebagai refleksi dari implikasi sosiologis Islam sebagai rahmatan li al-‘alamin.

Dengan demikian, da’wah dewasa ini merupakan kebutuhan sosial politik yang sangat mendesak. Sebab, manusia kontemporer, dengan segala kenyataan dan permasalahan yang dihadapinya, sangat membutuhkan orang yang dapat menjelaskan konsep-konsep hidup yang dapat menjamin keselamtan hidupnya di dunia dan di akhirat. Kebutuhan itu semakin mendesak ketika ideologi-ideologi besar dunia sekarang ini sedang mengalami kegoncangan hebat dan ternyata tidak mampu memberikan jawaban terhadap berbagai problematika modern ummat manusia.

Dalam bidang sosial, kondisi manusia sekarang ini diwarnai oleh berbagai kerusakan dan disintegrasi yang dapat melahirkan kehancuran. Sedangkan dalam bidang politik, kehidupan manusia berada dalam tabir kepunahan disebabkan oleh perilaku politik para pemimpin yang fasiq. Ternyata tatanan hidup yang adil, menuntut diwujudkannya sebuah tatanan politik yang berdasarkan kesatuan, keseimbangan, dan keharmonisan. Fondasi utama tatanan yang berdasarkan kesatuan, keseimbangan, dan keharmonisan ialah tauhid, pengesaan Tuhan, Pencipta alam semesta. Tatanan yang berlandaskan tauhid mengandung sejumlah konsep dalam mewujudkan cita-cita sosial-politik manusia, yaitu kesejahteraan hidup lahir dan batin yang telah menjadi cita-cita sosial-politik manusia sepanjang masa.

Menurut Al-Mawardi (Adabu al-Dunya wa al-Dien) tercapainya cita-cita sosial politik manusia sangat tergantung sejauh mana ia mampu mewujudkan dua syarat. Syarat pertama ialah yang berkaitan dengan sistem yang mengatur urusan publik, yaitu wujudnya sebuah tatanan politik yang baik. Syarat kedua ialah yang berkaitan dengan sesuatu yang dapat mewujudkan keshalihan setiap warga, yakni menyangkut masalah nilai-nilai moral yang dapat membentuk individu-indivu shalih.

Perspektif al-Mawardi di atas menunjukkan bahwa persoalan politik (amal siyasi) sama pentingnya dengan persoalan pembinaan pribadi (amal tarbawi) dalam upaya manusia mencapai cita-cita sosial-politiknya, yaitu kesejahteraan hidup lahir dan batin.Tentang urgensi politik ini terlihat pula pada ungkapan hukama, seperti dikutip Al-Mawardi, “Adab (rule) itu ada dua macam: adab syari’ah dan adab siyasah. Adab syari'ah ialah segala aturan yang berkaitan dengan penerapan kewajiban.

Sedangkan adab siyasah ialah aturan-aturan yang berkaitan dengan pemakmuran bumi. Keduanya harus bermuara pada keadilan.'' Selanjutnya menurut Al-Mawardi, ''keselamatan penguasa (sulthan) dan kemakmuran negeri tergantung sejauh mana berjalannya keadilan ini.

Orang yang meninggalkan kewajiban sama artinya dengan mendzalimi diri sendiri, dan orang yang merusak bumi sama artinya dengan menzalimi orang lain.'' Kalau tatanan politik yang tegak di atas prinsip kesatuan, keseimbangan, dan keharmonisan akan melahirkan keadilan maka tatanan politik yang memisahkan diri dari kesatuan, keseimbangan, dan keharmonisan akan melahirkan sejumlah kezaliman yang dapat menghancurleburkan tatanan itu sendiri. Sebab, dalam kondisi kezaliman merajalela tata nilai direduksi secara masif, kemerdekaan diperkosa habis-habisan, harga diri manusia dicampakkan dengan hina, struktur kehidupan ambruk, lingkungan rusak, dan masa depan manusia terus-menerus dibayang-bayangi ketakutan dan ketidakpastian.

Akibat-akibat buruk kezaliman yang telah dilakukan rezim-rezim tiranik selama 32 tahun lebih telah membuktikan bahwa kezaliman politik cukup menghancurkan segalanya. Kini, bangsa Indonesia terus-menerus dibayang-bayangi ketakutan dan ketidakpastian. Keambrukan sendi-sendi ekonomi kita semakin menambah deretan panjang daftar kemiskinan.

Kehidupan sosial kita yang tengah dilanda disintegrasi sosial dapat mengancam keutuhan bangsa. Kerusuhan yang terjadi di mana-mana semakin menambah kesengsaraan. Pepeprangan antaretnis dan agama telah memastikan bangsa Indoensia sedang berada dalam ambang kehancuran. Sedangkan kemunafiqan yang menjadi-jadi dan nyaris telah menjadi budaya umum telah membiakkan manusia-manusia hipokrit dan menyebar kecurangan di segala bidang kehidupan. Lorong-lorong ketegangan dan disparitas sosial-ekonomi semakin melebar nyaris tak bertepi. Secara praktis kita hidup dalam reruntuhan puing-puing arogansi para pemimpin congkak dan sombong.

Akibatnya terjadi saling kutuk mengutuk antara pemimpin dan rakyatnya. Rasulullah SAW mengingatkan:

“Sebaik-baik pemimpin kamu –yakni pemegang kendali pemerintahan kami—ialah orang yang kamu cintai dan mereka mencintai kamu, mendoakan kebaikanmu dan kamu mendoakan kebaikan untuk mereka. Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kamu ialah yang kamu benci dan mereka membenci kamu, yang kamu kutuk dan mereka mengutuk kamu.” (HR, Muslim)

Pemimpin-pemimpin yang selama hampir setengah abad menjadikan ucapan-ucapannya bernilai hukum dan petunjuk bagi seluruh rakyat serta tidak boleh dibantah itu telah memusnahkan semua harapan rakyat dalam mencapai cita-cita hidupnya.

Rasulullah SAW memberikan sebuah ilustrasi terhadap model kepemimpinan tiranik dalam sabdanya : “Nanti akan ada pemimpin-pemimpin sesudahku yang kata-katanya tidak boleh dibantah oleh siapapun. Mereka akan berdesak-desakan masuk neraka seperti monyet-monyet yang berdesak-desakan.” (HR, Abu Ya’la)

Seluruh agama samawi sangat keras dalam menolak ketidakadilan (kezaliman) dan kecurangan. Dalam agama Islam setiap muslim tidak hanya meminta berusaha menghapus berbagai bentuk kezaliman dari masyarakat mereka, namun juga menyuruh menolong siapa saja yang karena kelemahannya tidak dapat mempertahankan diri melawan kezaliman dan penindasan. Sebab, kezaliman dan ketidakadilan identik dengan kerusakan. Maka ia menjadi sumber kehancuran dan bencana bagi kemanusiaan. Kezaliman itu menjauhkan manusia dari hak-hak sahnya, menghinakan kemanusiaan, menganiaya diri sendiri, melahirkan kebangkrutan, dan menciptakan sebuah kondisi di mana manusia saling memangsa sesamanya.

Memasuki Wilayah Politik

Ketika kehidupan dicengkeram rezim tiranik hingga seluruh kekuasaan berpusat di tangan seseorang atau sekelompok manusia, para pembawa risalah samawi praktis harus memasuki wilayah politik, suatu wilayah strategis bagi gerakan da’wah. Hal itu merupakan sunnatudda’wah (aksiomatika da’wah) yang berlaku sepanjang sejarahnya. Diakui, memasuki wilayah politik selain strategis juga merupakan wilayah berat yang bisa jadi menimbulkan ketegangan-ketegangan ideologis. Lebih-lebih bila kondisi politik berada dalam dominasi penguasa tiran yang kata-katanya menjadi petunjuk dan tidak boleh dibantah siapapun seperti diisyaratkan Rasulullah SAW tersebut di atas.

Dalam sejarah da’wah ketegangan-ketegangan itu terjadi antara ideologi penguasa (dinul malik) dan risalah para nabi. Selain itu wialayah politik juga dapat menimbulkan benturan-benturan sosial-politik yang sangat keras antara para pendukung ideologi penguasa dan para penyeru dan pembela agama para nabi.

Mengingat wilayah politik merupakan wilayah da’wah yang berresiko tinggi dan bisa melahirkan kekerasan, maka Rasulullah SAW mensejajarkan nilai da’wah dalam wilayah politik dengan nilai syahadah dalam satu peperangan di jalan Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya di antara jihad paling besar adalah kata-kata yang adil (benar) di hadapan penguasa yang zalim.” “Penghulu para syuhada adalah Hamzah dan orang yang mengatakan hak di hadapan pemimpin zalim.” Bahkan banyak ulama yang menekankan bahwa rahasia keistemewaan ummat Islam terletak pada konsistensinya dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar.

Tentang pentingnya gerakan amar ma’ruf nahi munkar telah diingatkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya bahwa meninggalkan kewajiban ini dapat melahirkan sejumlah keburukan.

Firman Allah: “Mereka satu sama lain tidak saling melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat.” (QS, al-Ma`idah: 79)

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila ummatku sudah takut mengatakan kepada orang yang zhalim: “Wahai orang yang zhalim,” maka diucapkan selamat tinggal kepada mereka.” (HR, Ahmad)

“Sesungguhnya manusia apabila melihat orang berbuat zhalim, lantas tidak mencegah tindakannya, maka Allah akan menimpakan siksaan kepada mereka secara merata dari sisi-Nya.” (HR, Abu Dawud).

Dalam Islam apa yang disebut amal siyasi (aktivitas politik) merupakan bagian integral dari amal Islami. Sedangkan aktivitas politik yang dilakukan seorang Muslim hendaknya selalu melekat (inheren) dengan aktivitas keislamannya. Kenyataan ini semakin memperjelas pentingya amal siyasi bagi setiap Muslim dan setiap pergerakan Islam.

Sehubungan dengan ini seorang pendiri organisasi Islam Ikhwanul Muslimin di Mesir, Hasan al-Banna, menegaskan, Ikhwan tidak pernah melewatkan satu hari pun dari aktivitas politik.“Kita adalah para politikus, dengan pengertian bahwa kita memperjuangkan urusan bangsa kita.” Pada bagian lain beliau menyatakan: “Seorang Muslim tidak akan sempurna keislamannya kecuali bila ia menjadi seorang politikus yang memiliki wawasan luas dalam memikirkan urusan ummatnya, menaruh perhatian besar kepada kepentingan mereka dan mempunyai rasa kepekaan terhadap kehormatan mereka.”

Kendati demikian, Hasan al-Banna mengingatkan, Ikhwan harus tetap konsern pada kesatuan dan dinamika ummat. Karena itu ia harus tetap menempatkan posisinya sebagai ruh baru yang mengalir di tubuh ummat.

Sesudah Soeharto lengser keprabon, bangsa Indonesia memasuki era baru yang disebut “era reformasi”. Dalam era ini ada keinginan kuat dari kalangan rakyat untuk memberdayakan hak politiknya yang selama 32 tahun lebih terpasung dan terpinggirkan. Keinginan ini begitu kuatnya sehingga muncul gagasan untuk mendirikan partai-partai politik. Kenyataannya sudah lebih dari sepuluh partai Islam berdiri. Berarti da’wah di “era reformasi” sekarang ini secara praktis sedang memasuki wilayah politik dengan aneka ragam watak dan problematikanya.

Kesiapan Psiklogis

Kalangan pergerakan da’wah dapat mengambil i’tibar (pelajaran) dari perjalanan da’wah Nabi Musa As tentang pentingnya kesiapan psikologis para aktivis ketika da’wah memasuki wilayah politik.

Nabi Musa As memperoleh perintah dari Allah SWT untuk memasuki wilayah politik dalam da’wahnya melalui firman-Nya: “Pergilah (Musa) kepada Fir’aun, sesungguhnya ia sangat tiranik” (20: 24),

Namun dalam merespons perintah itu Musa meminta kepada Tuhan supaya dikarunia jiwa besar, jiwa yang lapang. ” Berkata Musa, “Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku.” (20: 25).

Agaknya permintaan Musa tersebut cukup menarik untuk dicermati. Ketika ia harus memasuki wilayah politik dalam da’wahnya Musa tidak langsung meminta dukungan dana atau pasukan.

Di sini, tampak jelas kesadaran dan pengetahuan Musa tentang liku-liku politiik. Musa menyadari sepenuhnya perlunya jiwa besar dalam memasuki arena politik. Ia juga sadar bahwa kesiapan psikologis dalam mengemban tugas barunya, yaitu menghadapi rezum Fir’aun yang sangat tiranik itu, sangat menentukan langkah-langkah operasional misinya.

Oleh sebab itu, yang diminta Musa bukanlah dukungan dana, senjata, atau personil. Yang diminta Musa adalah kesiapan psikolgis bagi dirinya dalam menghadapi tugas da’wah yang secara ril telah memasuki wilayah sangat penting dan strategis bagi perjalanan da’wahnya.

Kendati demikian, Musa tetap menyadari bahwa tugas barunya itu sangat berat dan memerlukan banyak dukungan. Sebab yang akan dihadapinya adalah sebuah rezim totaliter Fir’aun yang terkenal kejam dan sewenang-wenang.

Pertanyaannya, mengapa dalam menghadapi tugas berat itu Musa meminta kepada Allah supaya dilapangkan dadanya ? Kenyataan, kesiapan psikologis mutlak diperlukan oleh sebuah gerakan da’wah terutama ketika memasuki wilayah politik. Sebab, seperti sering dicitrakan orang, dunia politik adalah dunia yang penuh ketegangan, intrik, dan kekerasan, dunia konflik yang hingar bingar dan penuh tantangan.